MAKALAH ASKEB IV
“Pre–eklampsi ”
Disusun Oleh:
Cila Reza Putri
II A
Prodi DIII Kebidanan
Pembimbing : Devi Syarief, S.SiT,. M.Keb
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2016
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan kepada
kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya. Dalam
makalah ini, kami membahas tentang “Pre–eklampsia “. Salawat beserta salam
tidak lupa kami ucapkan kepada nabi junjungan kita Muhammad SAW.
Ucapan terima kasih tidak lupa
kepada dosen pembimbing, ibuk Devi Syarief, S.SiT,. M.Keb karena berkat
beliaulah makalah ini dapat selesai dengan baik. Mungkin dalam pembuatan
makalah ini, terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Padang, 09 Maret 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Preeklamsi
adalah kehamilan patologi yang merupakan masalah kesehatan pada ibu dan bayi
yang dikandungnya, hal ini terkait dengan angka kejadian dan mortalitas yang
tinggi baik di seluruh dunia maupun di Indonesia. Salah satu penyebab kematian
ibu yaitu terjadinya eklamsi dalam persalinan, eklamsi diawali dengan
pre-eklamsi pada kehamilan lanjut terutama pada trimester III.
Kehamilan
dengan pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi dengan protein urine,
edema atau keduanya yang terjadi akibat kehamilan setelah 20 minggu atau kadang
timbul lebih awal. Meskipun secara tradisional diagnosis pre eklamsia
memerlukan adanya hipertensi karena kehamilan disertai protein urine atau
edema, ada yang mengatakan bahwa edema pada tangan dan muka sangat sering
ditemukan pada wanita hamil sehingga diagnosa preeklamsia tidak dapat
disingkirkan dengan tidak adanya edema. Insiden preeklamsia pada wanita dengan
hipertensi kronik bervariasi karena belum ada definisi yang pasti.
Karena
dampak Pre-klamsia ringan sangat signifikan untuk itu ibu harus mampu mengenali
dan mengobati Pre-eklamsia ringan agar tidak berlanjut pada Pre-eklamsi berat
lalu ke eklamsi, pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti,
serta melakukan diet makanan tinggi protein, karbohidrat, cukup vitamin dan
rendah lemak. Untuk itu dalam mengurangi kejadian dan menurunkan angka kejadian
pre-eklamsiringan dapat menyebabkan kematian. Mengingat kejadian komplikasi
pada ibu dan BBL sebagian besar terjadi pada masa sekitar persalinan,
pemeriksaan kesehatan saat hamil dan kehadiran tenaga kesehatan yang terampil
pada masa kehamilan menjadi sangat penting. Pengetahuan masyarakat tentang
gejala komplikasi dan tindakan cepat untuk segera meminta pertolongan ke
fasilitas kesehatan terdekat menjadi kunci utama dalam menurunkan AKI dan AKB.
Secara
umum tingginya kematian ibu dan bayi berkaitan erat dengan 3 terlambat, yaitu
terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat sampai ke
fasilitas kesehatan serta terlambat mendpatkan pelayanan yang optimal (Depkes :
2004 : 24). Untuk mengetahui permasalahan tersebut di perlukan upaya bagi
seluruh pihak yang mau bersama-sama menyelamatkan ibu dan bayi.
Di
seluruh dunia preeklamsi menyebabkan 50.000 – 76.000 kematian maternal dan
900.000 kematian perinatal setiap tahunnya (Chappel dan Morgan, 2006).
Insidens preeklamsi pada kehamilan
adalah sebesar ±5-10% (WHO, 2002; Takahashi dan Martinelli, 2008) dan menjadi
satu dari tiga penyebab utama angka kematian ibu setelah perdarahan dan infeksi
(Miller, 2007).
Angka
kejadian di Indonesia bervariasi di beberapa rumah sakit di seluruh Indonesia
yaitu antara 5,75 - 9,17% (Sofoewan, 2003) dan meningkat sebesar 40% selama
beberapa tahun terakhir di seluruh dunia (Gilbert dkk, 2008) di Indonesia masih
merupakan penyebab kematian nomor dua tertinggi (24%) setelah perdarahan
(Depkes RI, 2001). Pengaruh preeklamsi pada ibu hamil bervariasi dari
hipertensi ringan, hipertensi berat atau krisis hipertensi, eklampsia sampai
sindroma HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low Platelet), kondisi
preeklamsi berat ini dapat terjadi pada ±1 per 1000 kehamilan (Davison, 2004).
Sedangkan
dampak kelainan ini pada janin juga bervariasi dari kelahiran prematur,
pertumbuhan janin terhambat yang dapat terjadi pada 1 dari 3 kasus preeklamsi
(Auer dkk, 2010)
sampai
kematian janin. Sehingga preeklamsi selain dapat meningkatkan angka morbiditas
dan mortalitas yang merupakan cermin kesejahteraan suatu bangsa, preeklamsi ini
juga membawa dampak masalah sosial yang besar untuk masyarakat. Sampai sekarang
penyebab awal preeklamsi masih belum diketahui dengan jelas (Gilbert dkk,
2008).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk
mengetahui penyebab preeklamsi dan banyak teori telah dikemukakan tentang
terjadinya preeklamsi sehingga disebut sebagai disease of theory, tetapi
tidak ada satupunteori tersebut yang dianggap mutlak benar diantaranya adalah
teori mengenai kelainan vaskularisasi plasenta, teori imunologik, teori
disfungsi endotel, teori adaptasi kardiovaskular, teori defisiensi gizi dan
teori inflamasi (Angsar, 2003; Sibai, 2005).
1.2
Rumusan
masalah
1.
Pre-eklampsia
Pada Kehamilan
2.
Etiologi
Pre-eklampsia
3.
Tanda
dan Gejala Pre-eklampsia
4.
Klasifikasi
Pre-eklampsia
5.
Faktor
Yang Berhubungan Dengan Pre-eklampsia
6.
Komplikasi
Pre-eklampsia
7.
Pencegahan
Pre-eklampsia
8.
Penatalaksanaan Pre-eklampsia
9.
Penanganan pre-eklampsia
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui Pre-eklampsia Pada Kehamilan
2.
Untuk mengetahui Etiologi Pre-eklampsia
3.
Untuk mengetahui Tanda dan Gejala Pre-eklampsia
4.
Untuk mengetahui Klasifikasi Pre-eklampsia
5.
Untuk mengetahui Faktor Yang Berhubungan Dengan Pre-eklampsia
6.
Untuk mengetahui Komplikasi Pre-eklampsia
7.
Untuk mengetahui Pencegahan Pre-eklampsia
8.
Untuk mengetahui Penatalaksanaan Pre-eklampsia
9.
Untuk mengetahui Penanganan
pre-eklampsia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Preeklampsia
Pada Kehamilan
2.1.1
Pengertian Preeklampsia
Preeklampsia
adalah penyakit yang ditandai dengan adanya hipertensi, proteinuria dan edema
yang timbul selama kehamilan atau sampai 48 jam postpartum. Umumnya terjadi
pada trimester III kehamilan. Preeklampsia dikenal juga dengan sebutan Pregnancy
Incduced Hipertension (PIH) gestosis atau toksemia kehamilan (Maryunani,
dkk, 2012). Sedangkan menurut Chapman (2006) preeklampsia adalah merupakan
kondisi khusus dalam kehamilan ditandai dengan peningkatan tekanan darah (TD)
dan proteinuria. Bisa berhubungan dengan kejang (eklampsia) dan gagal organ
ganda pada ibu, sementara komplikasi pada janin meliputi restriksi pertumbuhan
dan abrapsio plasenta.
Preeklampsia
adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang
timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada triwulan Ke-3
kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa.
Preeklampsia dibagi dalam golongan ringan dan berat (Abdul, dkk, 2006). Menurut
Mansjoer, dkk (2007) preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai
proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan. Kemudian Preeklampsia menurut Achdiat (2004) adalah
suatu sindroma klinis dalam kehamilan (usia kehamilan > 20 minggu dan / atau
berat janin 500 gram) yang ditandai dengan hipertensi, proteinuria dan edema.
Gejala
ini dapat timbul sebelum usia kehamilan 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik.
Menurut Skenna dan Kappel (2001) dalam Asuhan Kebidanan Persalinan dan
Kelahiran (2006), preeklampsia adalah kondisi khusus dalam kehamilan, ditandai
dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Bisa berhubung atau berlanjut
menjadi kejang (eklampsia), sementara komplikasi pada janin meliputi restriksi
pertumbuhan dan abrapsio plasenta / solusio plasenta (Maryunani, dkk, 2012).
Preeklampsia didefenisikan sebagai gangguan yang terjadi pada trimester kedua
kehamilan dan mengalami regresi setelah kelahiran, ditandai dengan kemunculan
sedikitnya dua dari tiga tanda utama, yaitu hipertensi, edema, dan proteinuria
(Mary dan Mandy, 2010)
2.1.2
Pengertian Kehamilan
Definisi
kehamilan dalam agama Islam adalah Allah menjadikan gumpalan darah menjadi
manusia di rahim seorang ibu. Dari sudut ilmu biologi, defenisi kehamilan
adalah ketika sperma dan ovum menyatu dan membentuk sel yang terus bertumbuh.
Maka dari kedua hal itu disimpulkan defenisi kehamilan adalah ketika sebuah
embrio di dalam perut wanita terbentuk hingga lahirnya bayi yang dikandung.
Defenisi kehamilan lainnya adalah terbentuknya bayi mulai dari preembriotik,
embriotik hingga kelahiran. Fase ini mengacu pada perkembangan seorang bayi
dalam perut sang ibu (Erika Jayantika, 2012).
2.2 Etiologi
Preeklampsia
Penyebab
timbulnya preeklampsia pada ibu hamil belum diketahui secara pasti, tetapi pada
umum nya disebabkan oleh (vasospasme arteriola). Faktor-faktor lain yang
diperkirakan akan mempengaruhi timbulnya preeklampsia antara lain:
primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, molahidatidosa, multigravida,
malnutrisi berat, usia ibu kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun serta
anemia (Maryunani, dkk, 2012).
Dalam
penelitian Rozikhan (2007), sebab preeklampsia dan eklampsia sampai sekarang
belum diketahui. Telah banyak teori yang mencoba menerangkan sebabmusabab
penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang memberikan jawaban yang
memuaskan. Teori yang diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut: (1)
primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion dan mola hidatidosa; (2) semakin
tuanya kehamilan; (3) terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian
janin dalam uterus; dan (4) timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang
dan koma. Salah satu teori yang dikemukakan ialah bahwa eklampsia disebabkan
ischaemia rahim dan plasenta (ischemaemia uteroplacentae). Selama
kehamilan uterus memerlukan darah lebih banyak.
Pada molahidatidosa, hydramnion, kehamilan
ganda, pada akhir kehamilan, pada persalinan, juga pada penyakit pembuluh darah
ibu, diabetes , peredaran darah dalam dinding rahim kurang, maka keluarlah
zat-zat dari plasenta atau desidua yang menyebabkan vasospasmus dan
hipertensi. Tetapi dengan teori ini tidak dapat diterangakan semua hal yang
berkaitan dengan penyakit tersebut. Ternyata tidak hanya satu faktor yang
menyebabkan pre-eklampsia dan eklampsia.
Dalam
teori dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeclampsia adalah iskemia
plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang
berkaitan dengan penyakit itu. Ada banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia
dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sudah
ditentukan mana yang sebab dan mana yang akibat. Dan sampai saat ini, apa yang
menjadi penyebab preeklampsia dan eklampsia belum diketahui, telah banyak teori
yang mencoba menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada
yang dapat memberi jawaban yang memuaskan (Chapman, 2006).
Penyebab
preeklampsia belum diketahui sampai sekarang secara pasti, bukan hanya satu
faktor melainkan beberapa faktor dan besarnya kemungkinan preeklampsia akan
menimbulkan komplikasi yang dapat berakhir dengan kematian. Akan tetapi untuk
mendeteksi preeklampsia sedini mungkin dengan melalui antenatal secara teratur
mulai trimester I sampai dengan trimester III dalam upaya mencegah preeklampsia
menjadi lebih berat (Manuaba, 2008).
Sampai
sekarang etiologi preeklampsia belum diketahui. Membicarkan patofisiologinya
tidak lebih dari “mengumpulkan” temuan-temuan fenomena yang beragam. Namun
pengetahuan tentang temuan yang beragam inilah kunci utama suksesnya penanganan
preeklampsia sehingga preeklampsia/eklampsia disebut sebagai the disease of
many theories in obstetrics (Vivian dan Tri Sunarsih, 2010).
Adapun
teori-teori tersebut antara lain:
1.
Peran Prostasiklin dan
Tromboksan
Pengeluaran
hormone ini memunculkan efek “perlawanan” pada tubuh. Pembuluh-pembuluh darah
menciut, terutama pembuluh darah kecil, akibatnya tekanan darah meningkat.
Organ-organ pun akan kekurangan zat asam. Pada keadaan yang lebih parah, bisa
terjadi penimbunan zat pembeku darah yang ikut menyambut pembuluh darah pada
jaringan-jaringan vital.
2. Peran Faktor Immunologis
Preeklampsia
sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan
berikutnya. Hal ini dapat di bahwa pada kehamilan pertama pembentuk blocking
antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada
kehamilan berikutnya.
3. Peran
Faktor Genetik
Beberapa
bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian
Preeklampsia-Eklampsia antara lain:
a
Preeklampsia hanya
terjadi pada manusia
b
Terdapatnya
kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsiaeklampsia pada anak-anak dari
ibu yang menderita preeklampsiaeklampsia
c
Kecenderungan meningkatnya
frekuensi preeklampsia-eklampsia pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat
preeklampsia-eklampsia dan bukan pada ipar mereka.
d
Peran Renin Angiotensin
Aldosteron System (RAAS).
Penderita pada tahap preeklampsia
hendaknya mau dirawat dirumah sakit untuk memudahkan pemantauan kondisi ibu dan
janin. Pemantauan meliputi fungsi ginjal lewat protein urinenya dan juga fungsi
hati. Menu makanan sehari-hari pun perlu diperhatikan. Yang pasti konsumsi
garam harus dikurangi, sedangkan buahbuahan dan sayuran diperbanyak (Mambo,
2006).
2.3 Tanda
dan Gejala Preeklampsia
Preeklampsia
dibagi dalam golongan ringan dan berat. Penyakit digolongkan berat bila satu
atau lebih tanda / gejala dibawah ini di temukan:
1.
Tekanan sistolik 160
mmHg, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih
2.
Proteinuria 5 gr atau
lebih dalam 24 jam : +3 atau +4 pada pemeriksaan kualitatif
3.
Oliguria, air kencing
400 ml atau kurang dari 24 jam
4.
Keluhan serebral,
gangguan pengelihatan atau nyeri daerah epigastrium
5.
Edema paru-paru. (Abdul,
dkk, 2006)
Menurut
Rozikhan (2007) tanda dan gejala preeklampsia adalah sebagai berikut:
1. Hipertensi
biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda-tanda lain.
Bila peningkatan tekanan darah
tercatat pada waktu kunjungan pertama kali dalam trimester pertama atau kedua
awal, ini mungkin menunjukkan bahwa penderita menderita hipertensi kronik.
Tetapi bila tekanan darah ini meninggi dan tercatat pada akhir trimester kedua
dan ketiga, mungkin penderita menderita preeklampsia. Peningkatan tekanan
sistolik sekurang-kurangnya 30 mmHg, atau peningkatan tekanan diastolik
sekurang-kurangnya 15 mmHg, atau adanya tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140
mmHg, atau tekanan diastolik sekurang- kurangnya 90 mmHg atau lebih atau dengan
kenaikan 20 mmHg atau lebih, ini sudah dapat dibuat sebagai diagnose. Penentuan
tekanan darah dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan
istirahat. Tetapi bila diastolik sudah mencapai 100 mmHg atau lebih, ini sebuah
indikasi terjadi preeklampsia berat.
2. Edema
ialah penimbunan cairan secara umum dan kelebihan dalam jaringan tubuh, dan
biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan pada kaki,
jari-jari tangan, dan muka, atau pembengkan pada ektrimitas dan muka. Edema pretibial
yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti
untuk penentuan diagnosa pre eklampsia. Kenaikan berat badan ½ kg setiap minggu
dalam kehamilan masih diangap normal, tetapi bila kenaikan 1 kg seminggu beberapa
kali atau 3 kg dalam sebulan pre-eklampsia harus dicurigai. Atau bila terjadi pertambahan
berat badan lebih dari 2,5 kg tiap minggu pada akhir kehamilan, mungkin
merupakan tanda preeklampsia. Bertambahnya berat badan disebabkan retensi air
dalam jaringan dan kemudian oedema nampak dan edema tidak hilang dengan
istirahat. Hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya pre eklampsia.
Edema dapat terjadi pada semua derajat PIH ( Hipertensi dalam kehamilan) tetapi
hanya mempunyai nilai sedikit diagnostik kecuali jika edemanya general.
3. Proteinuria
berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 g/liter dalam
air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+ atau 2 + (menggunakan
metode turbidimetrik standard) atau 1g/liter atau lebih dalam air kencing yang
dikeluarkan dengan kateter atau midstream untuk memperoleh urin yang
bersih yang diambil minimal 2 kali dengan jarak 6 jam. Proteinuria biasanya timbul
lebih lambat dari hipertensi dan tambah berat badan. Proteinuri sering ditemukan
pada preeklampsia, karena vasospasmus pembuluh-pembuluh darah ginjal. Karena
itu harus dianggap sebagai tanda yang cukup serius. Kemudian tanda dan gejala
preeklampsia menurut (Maryunani, dkk, 2012) adalah:
a. Hipertensi
dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, diukur minimal 2 kali dengan jarak
waktu 6 jam pada keadaan istirahat.
b. Proteinuria
5 gram/ 24 jam atau lebih, +++ atau ++++ pada pemeriksaan kualitatif.
c. Oliguria,
urine 400 ml / 24 jam atau kurang
d. Edema
paru-paru, sianosis
e. Tanda
gejala lain yaitu sakit kepala yang berat, masalah pengelihatan, pandangan
kabur dan spasme arteri retina pada funduskopi, nyeri epigastrium, mual atau
muntah serta emosi mudah marah
f. Pertumbuhan
janin intrauterine terlambat
g. Adanya
HELLP syndrome (H= Hemolysis, ELL= Elevated Liver Enzym, P= Low Plat
h. Pertumbuhan
janin intrauterine terlambat Kriteria menentukan adanya edema adalah: nilai
positif jika edema di daerah tibia, lumbosakral, wajah (kelopak mata), dan
tangan, terutama setelah bangun tidur dipagi hari.
2.4 Klasifikasi
Preeklampsia
Pembagian
preeklampsia dibagi dalam golongan ringan dan berat, berikut ini adalah
penggolongannya (Rukiyah dan Yulianti, 2010):
1. Preeklampsia
Ringan
Preeklampsia ringan adalah timbulnya
hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu
atau segera setelah kehamilan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan
20 minggu pada penyakit trofoblas, penyebab preeklampsia ringan belum diketahui
secara jelas, penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” akibat
vasospasme general dengan segala akibatnya (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
Gejala
preeklampsia ringan meliputi:
a. Kenaikan
tekanan darah sistolik antara 140-160 mmHg dan tekanan darah diastolik 90-110
mmHg
b. Proteinuria
secara kuantitatif >0,3 gr/l dalam 24 jam
c. Edema
pada pretibial, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan
d. Tidak
disertai dengan gangguan fungsi organ
2. Preeklampsia
Berat
Preeklampsia
Berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya
hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau edema pada
kehamilan 20 minggu atau lebih (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
Gejala
klinis preeklampsia berat meliputi:
a
Tekanan darah sistolik
>160 mmHg atau tekanan darah diastolik >110 mmHg
b
Trombosit <100.000
/mm3
c
Proteinuria ( >3 gr/
liter/24 jam) atau positif 3 atau 4, pada pemeriksaan kuantitatif bisa disertai
dengan:
a) Oliguria
(urine < 400 ml/24 jam)
b) Keluhan
serebral, gangguan pengelihatan
c) Nyeri
abdomen
d) Gangguan
fungsi hati
e) Gangguan
perkembangan Intrauterine
2.5
Faktor Yang Berhubungan
Dengan Preeklampsia
Setiap
wanita hamil memiliki risiko untuk mengalami penyakit akibat kehamilan,
sedangkan wanita yang tidak hamil tidak memiliki risiko tersebut. Menurut
Sarwono (2006), faktor yang berhubungan dengan terjadinya preeclampsia yaitu
faktor usia dan paritas. Sedangkan berdasarkan penelitian Rozikhan RS.Soewando
Kendal pada tahun 2007 beberapa faktor yang memiliki hubungan dengan terjadinya
preeklampsia adalah faktor pengetahuan, usia, paritas, riwayat preeklampsia,
genetik dan pemeriksaan kehamilan (ANC). Walaupun penyebab
preeklampsia
belum dapat dipastikan, namun beberapa faktor berikut ini memiliki hubungan
dengan terjadinya preeklampsia.
1. Umur
Ibu
Usia adalah usia individu terhitung
mulai saat dia dilahirkan sampai saat berulang tahun, semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
(Nursalam, 2001). Insiden tertinggi pada kasus preeklampsia pada usia remaja
atau awal usia 20 tahun, tetapi prevalensinya meningkat pada wanita diatas 35
tahun. Dengan bertambahnya usia seseorang, maka kematangan dalam berfikir
semakin baik.
Usia sangat memengaruhi kehamilan, usia
yang baik untuk hamil berkisar antara 20-35 tahun. Pada usia tersebut alat
reproduksi wanita telah berkembang dan berfungsi secara maksimal. Sebaliknya
pada wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun kurang baik untuk
hamil. Karena kehamilan pada usia ini memiliki ini memiliki resiko tinggi,
seperti terjadinya keguguran atau kegagalan persalinan, bahkan bisa menyebabkan
kematian. Wanita yang usianya lebih tua memiliki tingkat risiko komplikasi
melahirkan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih muda. Bagi wanita
yang berusia diatas 35 tahun, selain fisik mulai melemah, juga kemungkinan
munculnya berbagai risiko gangguan kesehatan, seperti darah tinggi, diabetes,
dan berbagai penyakit lainnya termasuk preeclampsia (Gunawan, 2010). Tinggi
rendahnya usia seseorang memengaruhi terjadinya preeclampsia (Sarwono, 2006).
2. Usia
Kehamilan
Menurut (Royston, 1994) dalam (Dollar,
2008) preeklampsia biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Gejalanya
adalah kenaikan tekanan darah. Jika terjadi di bawah 20 minggu, masih
dikategorikan hipertensi kronis. Sebagian besar kasus preeklampsia terjadi pada
usia kehamilna > 37 minggu dan makin tua kehamilan makin berisiko untuk
terjadinya preeklampsia.
3. Paritas
Paritas
adalah keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari satu. Sucheilitif
paritas adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah anak yang pernah
dilahirkannya. Menurut Manuaba (1999) paritas adalah wanita yang pernah melahirkan
dan dibagi menjadi beberapa istilah:
a. Primigravida
: adalah seorang wanita yang telah melahirkan janin untuk pertama kali
b. Multipara
: adalah seorang wanita yang telah melahirkan janin lebih dari satu kali
c. Grande
multipara : adalah wanita yang telah melahirkan janin lebih dari lima kali.
Pada primigaravida frekuensi
preeklampsia lebih tinggi bila dibandingankan dengan multigaravida, terutama
primigaravida muda (Sarwono, 2006).
4. Bad
Obstetric History
Seorang wanita yang pernah memiliki
riwayat preeklampsia, kehamilan molahidatidosa dan kehamilan ganda kemungkinan
akan mengalami preeclampsia lagi pada kehamilan berikutnya, terutama jika
diluar kehamilan menderita tekanan darah tinggi menahun (Apotik Online, 2005).
2.6
Komplikasi Preeklampsia
Menurut Khatteryn & Laura (1995)
dalam Anik Maryunani dan Yulianingsih (2012) komplikasi ibu dengan preeklampsia
meliputi : cerebral vascular accident kardiopulmonari edema, retardasi
pertumbuhan, kematian janin intra uterine yang disebabkan oleh hipoksia dan
premature. Komplikasi preeklampsia yang lain adalah : Ablatio retinae,
gagal ginjal, perdarahan otak, gagal jantung dan edema paru (Vivian dan Tri
Sunarsih, 2010).
2.7 Pencegahan
Preeklampsia
Yang dimaksud dengan pencegahan adalah
upaya untuk mencegah terjadinya preeklampsia pada perempuan hamil yang
mempunyai risiko terjadinya preeklampsia.
Preeklampsia
adalah suatu sindroma dari proses implantasi sehingga tidak secara keseluruhan
dapat di cegah (Angsar, 2008). Pencegahan timbulnya preeklampsia dapat
dilakukan dengan pemeriksaan antenatal care secara teratur. Gejala ini ini
dapat ditangani secara tepat. Penyuluhan
tentang
manfaat isirahat akan banyak berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu
berarti tirah baring di tempat tidur, tetapi ibu masih dapat melakukan kegiatan
sehari-hari, hanya dikurangi antara kegiatan tersebut, ibu dianjurkan duduk
atau berbaring. Nutrisi penting untuk diperhatikan selama hamil, terutama
protein. Diet protein yang adekuat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perbaikan
sel dan transformasi lipid (Maryunani, dkk, 2012).
2.8
Penatalaksanaan
Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan
komplikasi kehamilan yang berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Oleh karena
itu, pencegahan atau diagnosis dini dapat mengurangi kejadian dan menurunkan
angka kesakitan dan kematian. Untuk
dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan
pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan,
kenaikan tekanan darah, dan pemeriksaan untuk menentukan proteinuria.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan
teliti dapat menemukan tanda- tanda dini pre-eklampsia, dan dalam hal itu harus
dilakukan penanganan semestinya. Karena para wanita biasanya tidak mengemukakan
keluhan dan jarang memperhatikan tanda-tanda preeklampsia yang sudah terjadi,
maka deteksi dini keadaan ini memerlukan pengamatan yang cermat dengan masa-
masa interval yang tepat. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya pre-eklampsia
dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan diatas.
Walaupun timbulnya pre-eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun
frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan
pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil, antara lain:
a. Diet
makanan.
Makanan tinggi protein, tinggi
karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan
bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna.
Untuk meningkatkan protein dengan
tambahan satu butir telus setiap hari.
b. Cukup
istirahat
Istirahat yang cukup pada hamil semakin
tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih
banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju
plasenta tidak mengalami gangguan.
c. Pengawasan
antenatal ( hamil )
Bila terjadi perubahan perasaan dan
gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang
memerlukan perhatian:
1) Uji
kemungkinan pre-eklampsia:
a) Pemeriksaan
tekanan darah atau kenaikannya
b) Pemeriksaan
tinggi fundus uteri
c) Pemeriksaan
kenaikan berat badan atau edema
d) Pemeriksaan
protein urin
e) Kalau
mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, Gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina
mata.
2) Penilainan
kondisi janin dalam rahim
a) Pemantauan
tingi fundus uteri
b) Pemeriksaan
janin: gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban
c) Usulkan
untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Dalam
keadaan yang meragukan, maka merujuk penderita merupakan sikap yang ha rus dipilah.
2.9
Penanganan
pre-eklampsia
Eklampsia merupakan komplikasi obstetri
kedua yang menyebabkan 20 – 30% kematian ibu. Komplikasi ini sesungguhnya dapat
dikenali dan dicegah sejak masa kehamilan (preeklampsia). Preeklampsia yang
tidak mendapatkan tindak lanjut yang adekuat ( dirujuk ke dokter, pemantauan
yang ketat, konseling dan persalinan di rumah sakit ) dapat menyebabkan
terjadinya eklampsia pada trimester ketiga yang dapat berakhit dengan kematian
ibu dan janin.
Penanganan pre-eklampsia bertujuan untuk
menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan
melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma
minimal. Pengobatan hanya dilakukan secara simtomatis karena etiologi
pre-eklampsia, dan faktor-faktor apa dalam kahamilan yang menyebabkannya, belum
diketahui.
Tujuan
utama penanganan ialah :
1. mencegah
terjadinya pre-eklampsia berat dan eklampsia;
2. melahirkan
janin hidup
3. melahirkan janin dengan trauma
sekecil-kecilnya.
Pada dasarnya penanganan pre-eklampsia terdiri atas
pengobatan medik dan penanganan obtetrik. Pada pre-eklampsia ringan ( tekanan
darah 140/90 mmHg samoai 160/100 mmHg ) penanganan simtomatis dan berobat jalan
masih mungkin ditangani di puskesmas dan dibawah pengawasan dokter, dengan
tindakan yang diberikan:
1) Menganjurkan
ibu untuk istirahat ( bila bekerja diharuskan cuti), dan menjelaskan
kemungkinan adanya bahaya. )
a) Obat
penunjang
a. Vitamin
B kompleks
b. Vitamin
C atau vitamin E
c. Zat
besi
b) Nasehat
a. Garam
dalam makan dukurangi
b. Lebih
banyak istirahat baring kearah punggung janin
c. Segera
datang memeriksakan diri, bila terdapat gejala sakit kepala, mata kabur, edema
mendadak atau berat
badan naik, pernafasan
semakin sesak, nyeri epigastrium, kesadaran makin berkurang, gerak janin
melemah-berkurang, pengeluaran urin berkurang.
c) Jadwal
pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat.
Petunjuk untuk segera memasukkan penderita ke rumah sakit atau merujuk
penderita perlu memperhatikan hal berikut:
a. Bila
tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
b. Protein
dalam urin 1 plus atau lebih
c. Kenaikan
berat badan 11/2 kg atau lebih dalam seminggu
d. Edema
bertambah dengan mendadak
e. Terdapat
gejala dan keluhan subyektif.
Seorang bidan diperkenankan merawat
penderita preeklampsia berat bersifat sementara, sampai menunggu kesempatan
melakukan rujukan. Penanganan abstetri ditujukan untuk melahirkan bayi pada
saat yang optimal, yaitu sebelum janin mati dalam kandungan, akan tetapi sudah
cukup matur untuk hidup di luar uterus. Setelah persalinan berakhir, jarang
terjadi eklampsia, dan janin yang sudah cukup matur lebih baik hidup diluar
kandungan dari pada dalam uterus.
BAB III
KONSEP DASAR
ASUHAN
Langkah – Langkah Manajemen Asuhan
Kebidanan
Langkah 1: pengkajian
1. Data subjektif
1.) Biodata atau identitas klien dan
suami.
Yang perlu di kaji :
a. Nama, untuk membedakan klien yang satu
dengan yang lain
b. Umur ( dalam tahun) , masa sehat
bereproduksi adalah antara kurun waktu usian 20 tahun sampai 35 tahun, resiko
meningkat kelahiran terjadi pada usia < 20 tahun dan > 35 tahun.
c. Agama, untuk mengetahui latar belakang
kepercayaan yang dianut agar memudahkan kita menentukan bagaimana cara memberi
dukungan spiritual.
d. Kebangsaan, untuk mengetahui adat istiadat, budaya
dan suku ras.
e. Pendidikan, untuk
mengetahui tentang seberapa besar pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
pasien dalam bidang kesehatan.
f. Pekerjaan, untuk
menentukan status sosial ekonomi pasien, apabila pasien mengalami
kegawatdaruratan obstetri, maka kita perlu merujuknya dan itu berkaitan dengan
penghasilan yang perlu diperoleh pasien.
g. Alamat, untuk mengetahui dimana ibu menetap
dan untuk mencegah kekeliruan apabila ada nama yang sama.
2.) Keluhan utama
Merupakan alasan utama klien untuk datang ke RS dan apa-apa
saja yang di rasa kan klien.
Keluhan utamanya yaitu sakit kepala, penglihatan kabur,
nyeri pada perut bagian atas (epigastrium) serta mual muntah dan jari
tangan bengkak.
3) Riwayat perkawinan
Kemungkinan diketahui status perkawinan, umur waktu kawin
,berapa lama kawin baru hamil.
4) Riwayat mentruasi
Untuk mengetahui kapan terjadinya
menarche, siklus haid, banayaknya haid, lamanya haid, apakah ada nyeri
haid,serta untuk menentukan HPHT untuk mengetahui tafsiran persalinan.
5) Riwayat obstetric
a. Kehamilan yang lalu kemungkinan
klien pernah mengalami mual dan muntah dan kemungkinan klien pernah mengalami
pre-eklampsia pada kehamilan nya yang lalu.
b. Persalinan yang lalu, kemungkinan
klien mengalami persalinan spontan.
c. Nifas yang
lalu, kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea, dan lactasi berjalan dengan normal.
6) Riwayat kehamilan sekarang
a. Kemungkinan klien merasa mual dan
muntah.
b. Kemungkinan klien merasakan lemas, cepat
lelah dan sakit kepala pada daerah frontal.
c. Kemungkinan klien merasakan nyeri
abdomen atau nyeri di daerah epigastrium.
d. Kemungkinan apakah ada pemeriksaan
kehamilan pada tenaga kesehatan, mendapatkan imunisasi TT dan tablet fe.
7) Riwayat kesehatan sekarang dan
lalu
Untuk mengetahui faktor-faktor penyakit yang telah
diderita ibu yang berkaitan dengan pre-eklamsia.
8) Riwayat
kesehatan keluarga
Kemungkinan
ada anggota keluarga yang mengalami penyakit keturunan, penyakit menular, riwayat
kehamilan kembar.
9) Riwayat kontrasepsi
Kemungkinan
klien pernah menggunakan alat kontrasepsi atau tidak.
10) Riwayat seksualitas
Kemungkinan klien mengalami apakah aktifitasnya normal atau
ada gangguan.
11) Riwayat sosial, ekonomi, dan budaya
Kemungkinan hubungan klien dengan suami, keluarga dan
masyarakat baik, kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi, adanya kebudayaan
klien yang mempengaruhi kesehatan kehamilan dan persalinannya.
12) Riwayat spiritual
Kemungkinan klien melakukan ibadah agama & kepercayaan
nya dengan baik.
13) Riwayat psikologis
Kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga yang baik
terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan klien dan suaminya
mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini atau kemungkinan klien
cemas dan gelisah dengan kehamilannya.
14) Kebutuhan dasar
Pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi,
proses eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat, personal hygiene dan
kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan saat hamil dan bersalin.
2. Data objektif.
Data dikumpulkan
melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus:
1.) Pemeriksaan umum
Secara teoritis kemungkinan di temukan gambaran keadaan umum
klien baik,yang mencakup kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, TB, BB, dan
keadaan umum.
a.
Tekanan darah
Dimana kenaikan
tekanan darah pada ibu penderita pre-eklampsia Kenaikan
tekanan darah sistolik antara 140-160 mmHg dan tekanan darah diastolik 90-110
mmHg
b.
Berat badan
Pada
pemeriksaaan awal maupun ulang untuk mengevaluasi kenaikan BB yaitu bila
kenaikan berat badan ½ kg per minggu dinyatakan normal, sedangkan jika kenaikan
berat badan dalam satu minggu naik 1 kg
sampai beberapa kali, ini perlu diwaspasdai.
2.) Pemeriksaan khusus
a.) Secara inspeksi yaitu pemeriksaan
pandang yang di mulai dari kepala sampai kaki.
a. Muka : untuk mengetahui ada oedema
atau tidak
b. Mata : untuk mengetahui anemis atau
tidak
c. Hidung : untuk mengetahui ada sekret dan
polip atau tidak
d. Mulut : untuk mengetahui ada stomatitis
atau tidak, apakah pada gigi ada cries atau tidak
e. Leher : apakah ada pembesaran kelenjer limfe dan kelenjar tiroid
f. Payudara : untuk mengetahui apakah simetris kiri dan kanan,
keadaan puting susu menonjol atau tidak, kolostrum ada atau tidak
g. Abdomen : perut membesar sesuai dengan usia
kehamilan, apakah ada bekas luka operasi. Kemungkinan nyeri pada perut bagian
bawah (epigastrium)
h. Genetalia : vulva apakah bersih, ada varises
atau tidak, oedema dan pengeluaran dari vagina
i.
Ekstremitas :
untuk mengetahui ekstremitas bagian atas atau bawah ada oedema dan varises atau
tidak. Kemungkinan ibu oedema pada kaki.
b.) Secara palpasi dengan menggunakan
cara leopold kemungkinan ditemukan ialah :
Leopold I :TFU dalam cm, pada fundus kemungkinan teraba bagian kepala, bokong atau lainnya.
Leopold II :Pada dinding perut klien sebelah kiri atau kanan kemungkinan teraba punggung, anggota gerak atau bokong,
kepala
Leopold III :Pada bagian terbawah kemungkinan
teraba kepala, bokong ataupun yang lainnya.
Leopold IV :Kemungkinan bagian terbawah janin telah masuk PAP dan seberapa masuknya.
c.) Secara auskultasi
Kemungkinan dapat terdengar bunyi
jantung janin, frekuensinya, teratur atau tidak dan posisi punctum maximumnya.
d.) Secara perkusi
Kemungkinan reflek patella kiri dan
kanan positif
e.) Pemeriksaan ukuran panggul
Kemungkinan normal dengan pengukuran
jangka panggul
f.) Pemeriksaan tafsiran berat janin
normal (TBJ)
Kemungkinan
berat badan janin normal, dengan menggunakan rumus : (TFU dalam cm – n) x 155
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Darah : untuk
mengetahui Hb,
Haematokrit, golongan darah
Urine : ditemukan
protein dalam urin 10 gram sehari atau lebih protein urin +1 atau lebih
HB :
10 gr %
Langkah II : Interprestasi Data
Berdasarkan
kasus ini,maka kemungkinan interprestasi data yang timbul adalah ;
1. Diagnosa kebidanan
Ibu hamil atau tidak,G...P...A...H...usia kehamilan...minggu, janin hidup atau tidak, tunggal
atau ganda, intrauterine atau ekstrauterine, letak..., pu-ka/pu-ki, keadaan jalan lahir normal/tidak, KU
ibu dan janin baik atau tidak dengan Pre-eklampsia.
Dasar
:
1. G…P…A…H…
a. Ibu mengatakan ini kehamilan ke dua
b. Ibu pernah keguguran atau tidak
2. Usia kehamilan
a. Ibu mengatakan tanggal HPHT nya
b. Pembesaran perut sesuai usia
kehamilan
c. Berdasarkan tinggi fundus uteri
3.
Janin hidup
a. Pada auskultasi DJJ terdengar jelas,
kuat dan teratur
b. Janin yang hidup ditandai dengan
pergerakan janin yang dapat dirasakan oleh ibu
4.
Pada saat palpasi
5.
Keadaan janin baik
a. Auskultasi DJJ terdengar jelas, kuat
dan teratur
b. Janin yang hidup ditandai dengan
pergerakan janin yang dapat dirasakan oleh ibu
6.
Pada pemeriksaan umum
7.
Pre-eklamsia
a. Tekanan Darah 160/110 mmHg atau
lebih
b. Proteinuria > + 1 atau lebih
c. Oliguria, urine 400 ml/24 jam atau lebih
d. Oedema pada
ekstremitas
2. Masalah
Kemungkinan
masalah yang timbul adalah :
1. Ibu merasa
cemas dengan kehamilannya ini karna kondisi ibu saat ini mengkhawatirkan.
2. Eklampsia pada
ibu.
Dasar :
a.
Tekanan Darah 160/110 mmHg atau lebih
b. Proteinuria > + 1 atau lebih
c. Oliguria, urine 400 ml/24 jam atau
lebih
3. Kebutuhan
1.
Dukungan psikologi
Dasar : ibu merasa cemas dengan kehamilannya dan ibu
khawatir dengan keadaan janinnya
2.
Nutrisi
Dasar : karna ibu mengkonsumsi makanan yang asin atau
mengkonsumsi makanan yang berlebihan sehingga terjadi kenaikan berat badan yang
berlebihan
3.
Istirahat
Dasar : istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam
arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk
atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta
tidak mengalami gangguan.
Langkah III : Diagnosa /
Masalah Potensial
Pada langkah
ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang ada diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien,
bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini
benar-benar terjadi. Langkah in sangat penting sekali dalam melakukan asuhan
yang aman.
Kemungkinan
diagnosa potensial yang timbul dengan
preeklampsia meliputi : cerebral vascular accident kardiopulmonari edema,
retardasi pertumbuhan, kematian janin intra uterine yang disebabkan oleh
hipoksia dan premature. Komplikasi preeklampsia yang lain adalah : Ablatio
retinae, gagal ginjal, perdarahan otak, gagal jantung dan edema paru
(Vivian dan Tri Sunarsih, 2010).
Dan dapat terjadi
eklampsia, Dasar : Dari hasil pemeriksaan di dapatkan
warna urin ibu keruh, protein urin + 3 tekanan darah 160/110 mmHg dan disertai kejang.
Langkah IV : Tindakan Segera
Mengindetifikasi perlunya tindakan
segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk di konsulkan atau di tangani
bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan kondisi klien.
Kemungkinan
tindakan segera pada kasus ini adalah pantau TTV ibu, dampingi ibu dan
anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. Dan kolaborasi dengan dokter SpOG dan
dokter spesialis penyakit dalam.
Langkah V : Perencanaan
Suatu rencana asuhan harus disetujui
oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan
dengan efektif. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan
teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan.
Dari hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan yang
direncanakan pada pasien pre-eklampsia antara lain :
a.
Lakukan pemeriksaan satu kali seminggu untuk memantau
tekanan darah, urin, kenaikan berat badan dan kondisi janin
b.
Sampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan jelaskan hal-hal
yang dianggap perlu seperti : peningkatan tekanan darah, proteinuria
c.
Berikan dukungan psikologis dan spiritual pada ibu dengan
melibatkan suami dan keluarga dalam perawatan klien
d.
Berikan nasehat pada ibu tentang :
a)
Istirahat yang cukup
b)
Diet seimbang dalam kehamilan yaitu : tinggi protein, rendah
lemak, dan kurangi garam
c)
Hygiene dalam kehamilan
e.
Ajarkan ibu untuk menghitung gerakan janinnya untuk memantau
kesejahteraan janinnya
f.
Ajarkan pada ibu untuk memantau tanda-tanda terjadinya
pre-eklamsia berat
g.
Jelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan
h.
Anjurkan ibu untuk
kunjungan ANC secara teratur
Langkah VI : Pelaksanakan / Implementasi
Pada langkah
ini rencana asuhan menyeluruh yang telah diuraikan pada langkah kelima
dilaksanakan secara efisien dan aman.perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya
oleh bidan dan sebagian oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lainnya.
Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memiliki tan ggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya. Bila bidan berkolabirasi dengan dokter untuk
menangani klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam
manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efesien akan
menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
Pelaksanaan tindakan yang dapat di
lakukan antara lain :
a.
Melakukan pemeriksaan satu kali seminggu untuk memantau
tekanan darah, urin, kenaikan berat badan dan kondisi janin
b.
Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan menjelaskan
hal-hal yang dianggap perlu seperti : peningkatan tekanan darah, proteinuria
Pada
pasien pre-eklamsia ditemukan :
a. Tekanan darah Tekanan Darah 160/110
mmHg atau lebih
b. Proteinuria > + 1 atau lebih
c. Oliguria, urine 400 ml/24 jam atau
lebih
c.
Memberikan dukungan psikologis dan spiritual pada ibu dengan
melibatkan suami dan keluarga dalam perawatan klien
d.
Berikan nasehat pada ibu tentang :
a)
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, pada siang hari
minimal 1 jam dan pada malam hari minimal 7 jam
b)
Menganjurkan pada ibu untuk diet seimbang dalam kehamilan
yaitu dengan makan makanan yang tinggi protein, rendah lemak dan garam serta
banyak minum air putih
c)
Hygiene dalam kehamilan seperti mengganti pakaian dalam tiap
kali lembab
e.
Mengajarkan ibu untuk menghitung gerakan janinnya untuk
memantau kesejahteraan janin dengan ketentuan :
a)
Waktu menghitung gerakan dilakukan sekali dalam sehari
b)
Dihitung hingga 10 kali gerakan dengan sekurang-kurangnya 10
gerakan dalam 10 jam
c)
Ibu harus memberitahu bidan atau dokter jika gerakan
janinnya kurang 10 kali dalam sepuluh jam
f.
Mengajjarkan pada ibu untuk memantau tanda-tanda terjadinya
pre-eklamsia berat yaitu sakit kepala, rasa nyeri di daerah epigastrium,
penglihatan kabur, mual sampai muntah dan gangguan kesadaran
g.
menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan seperti
: sakit kepala menetap, gangguan penglihatan, mual muntah berlebihan, nyeri
perut hebat, penurunan gerakan janin, perdarahan jalan lahir, demam dan kejang
h.
Menganjurkan ibu
untuk kunjungan ANC secara teratur
Langkah VII : Evaluasi
Merupakan
langkah akhir dari proses asuhan kebidanan pada pre-eklampsia. Asuhan manajemen
kebidanan dilakukan secara kontinue sehingga perlu di evaluasi setiap tindakan
yang telah di berikan agar lebih efektif.
Hasil evaluasi yang ditemukan :
1.
Ibu mau melakukan pemeriksaan satu kali seminggu untuk
memantau tekanan darah, urin, kenaikan berat badan dan kondisi janin
- Ibu mengerti hasil pemeriksaan, bahwa saat ini secara umum ibu dalam keadaan kurang baik.
- Ibu mau untuk istirahat yang cukup, Diet seimbang dalam kehamilan seperti tinggi protein, rendah lemak, dan ksurangi garam serta menjaga personal Hygiene dalam kehamilan
- Ibu mengerti dengan penjelasan yang di sampaikan dan mau melakukannya.
- Ibu mengerti dan mau untuk kunjungan hamil nya di percepat atau di perlambat.
BAB
IV
KESIMPULAN
3.1
Kesimpulan
Kehamilan adalah suatu hal yang
fisiologis,namun dalam kehamilan dapat terjadi sesuatu hal yang patologis,salah
satunya adanya preeklamsi dalam kehamilan yang digolongkan dalam preeklamsi
ringan dan preeklamsi berat.
Preelamsi adalah dimana keadaan
hypertensi dan disertai protein urine(+). Dikatakan preeklamsi ringan jika
terjadi kenaikan diastolic tekanan darah
30 mmHg, protein urine +1 dan dikatakan preeklamsi berat jika ditandai
dengan tekanan darah 160/110 mmHg,nyeri
kepala,nyeri epigastrium,oligouria,pandangan kabur karena oedema pada
pupil,terdapat oedem pada sekitar wajah dan/ekstermitas atas bawah,protein
urine +2.
3.2
Saran
Preeklamsi merupakan titik awal
terjadinya eklamsi yang merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat
menyebabkan kematian ibu dan bayi.Dengan dibuatnya makalah ini semoga dapat
memberikan manfaat khususnya mahasiswa d3 kebidanan dan tinjauan kasus diatas
dapat memberikan gambaran tentang tanda gejala serta penanganan preeklamsi
sesuai kewenangan dan kompetensi bidan.Terlebih lagi,kita sebagai bidan dimasa
depan dapat melakukan pencegahan preventif melalui antenatal care yang
berkualitas agar preeklamsi tidak menjadi eklamsi bahkan dapat di tanggulangi.
DAFTAR PUSTAKA
Varney Helen, Kriebs Jan M, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.
Jakarta:EGC
Rukiyah,
Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Asuhan
Kebidanan IV ( patologi kebidanan). Trans info media. Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar